Monday, January 21, 2008

Bertemu Kembali



Mengawali tahun 2008 ini, saya kembali dipertemukan dengan teman-teman lama waktu masih di Petakumpet, Indra (eks kreatif Petakumpet), mas Heru (Petakumpet) dan Pak Arief (Managing Director Petakumpet). Sehabis ikut diskusi iklan PEKIK (Pekan Iklan) D3 Komunikasi UGM di museum Affandi dimana pembicaranya Pak Arief dan Dedi (Creative Head Petakumpet), kita pun menghabiskan malam sembari ngopi di Blandongan.
Banyak hal yang kita obrolkan malam itu, terutama tentang industri kreatif dan masa depan. Kebetulan saya dan Indra (bersama Erwan yang malam itu terpaksa tidak bisa ikut) juga sedang mencoba membesarkan majalah Bajigur! yaitu majalah kreatif berbasis kerakyatan. Tentunya kita masih harus sangat banyak belajar, terutama dari segi bisnisnya. Dan pak Arief pun memberikan support untuk Bajigur!, bahkan mempersilahkan kalo mau memanfaatkan halaman kantor Petakumpet sebagai tempat untuk kumpul-kumpul (matur nuwun pak Arief).
Dan waktupun kembali memisahkan kami, karena sudah jam setengah 12 malam dan kita juga harus kembali fight untuk mengejar deadline kerjaan masing-masing. Tuhan memang selalu baik hati, masih memberikan kesempatan untuk terus belajar dan memetik pengalaman dari orang lain...

Sunday, December 16, 2007

Pelajaran Dari Koin Seratus Rupiah


Tentunya kita semua familiar dengan uang yang satu ini, koin seratus rupiah. Iseng-iseng browsing gambar di google, akhirnya menemukan gambar ini di jurnalindonesia.file.wordpress.com. Langsung saja memori melompat ke masa kecil, dikala masih menuntut ilmu di sekolah dasar (tahun 1989). Waktu itu, uang saku yang saya terima dari ibu setiap kali berangkat sekolah adalah seratus rupiah. Dengan uang jajan tersebut, saya bisa membeli empat snack atau dua es krim. Biasanya saya membeli snack, karena saya dilarang untuk minum es waktu itu. Kalaupun bosen dengan snack, saya biasanya membeli kerupuk atau pempek. Sungguh masa-masa yang menyenangkan.
Dan sekarang, di tahun 2007 ini, saya juga mempunyai adik sepupu yang kebetulan sekolah di SD saya yang dulu. Kemarin saya iseng-iseng tanya, "Adek kalo ke sekolah berapa uang sakunya?" Dia menjawab, "Lima ribu bang". Kemudian saya tanya lagi, "Uang segitu bisa beli apa aja?" Dia berpikir sebentar dan kemudian menjawab, "Dapat lima snack bang, tapi biasanya uangnya ga diabisin, biar ada yang ditabung". Saya tertawa mendengarnya, kecil-kecil sudah sadar perencanaan keuangan.
Tapi ada hal yang kemudian saya sadari dari gambar koin seratus rupiah ini. Nilai uang itu semakin kecil seiring dengan bertambahnya waktu, atau bahasa keuangannya time value of money. Salah satu faktor penyebabnya adalah tingkat inflasi. Hal ini menyebabkan di masa depan saya harus menyediakan lebih banyak uang untuk, katakanlah, membeli barang yang sama. Peningkatan penghasilan tentunya harus melebihi tingkat inflasi, sehingga saya tetap bisa menikmati peningkatan penghasilan tersebut. Berarti, target pribadi mulai tahun 2008, harus kerja cerdas dan wajib belajar investasi.
Masa depan harus diantisipasi dan disiapkan dari sekarang tentunya...

Tuesday, December 11, 2007

Mulai Lagi

Tahun 2007 bentar lagi bakalan berakhir, dan hasil evaluasi pribadi menunjukkan bahwa banyak sekali target-target pribadi yang belum tercapai. Jujur, hal itu mengecewakan karena berarti kemunduran. Ehm, mau gimana lagi. Waktu memang tidak bisa diulang dan penyesalan memang datang di akhir.

Tahun 2008, bakal jadi seperti apa ya?

Tuesday, November 20, 2007

Belajar dari orang lain



Banyak hal yang tidak saya ketahui di dunia ini. Dan saya tidak perlu harus kemana-mana untuk tahu tentang ketidaktahuan itu, cukup dari orang-orang di sekitar.

Saya sering dengar dari mana-mana, bahwa sekarang era teknologi informasi dan siapa yang menguasai informasi dialah yang akan unggul. Dari kecil saya selalu kagum dengan orang cerdas, cerdas mengemukakan pemikirannya, dan cerdas menyampaikan dalam berbagai bentuk, entah itu bicara, tulisan, lagu, grafis, foto, atau bentuk-bentuk yang laen. Ajaib sekali bagi saya ketika memikirkan bagaimana mereka bisa menghasilkan itu semua.

Dan puncaknya adalah saya begitu ingin untuk bisa seperti mereka. Saya ingin belajar untuk bisa, terlepas dari segala keterbatasan yang saya (pikir dan rasa) punya. Tentunya saya harus belajar dari mereka, kalo bisa dari yang terbaik di bidangnya.

Sunday, November 18, 2007

Mari tersenyum


Mau tahu alat yang ampuh untuk mencairkan suasana?
Tidak sulit dan tidak mahal, cukup dengan senyuman. Tentunya senyuman yang hangat dan tulus, serta jangan lupa disertai dengan niat yang baik. Simpel, tapi ternyata cukup sulit untuk dilakukan, apalagi jika hati tidak sreg. Dan hati memang tidak bisa dibohongi, plus orang juga bisa merasakan jika senyum kita itu tulus atau tidak.

Senyum juga bisa membuat hari terasa lebih indah karena perasaan akan menjadi lebih damai ditambah orang-orang pun akan merasa terhibur jika melihat kita tersenyum. Walaupun wajah tidak rupawan, tetap lebih sejuk jika dihiasi senyuman daripada wajah ganteng tapi tanpa senyuman.

Senyum membuat cepat akrab, menghilangkan kecemasan, dan yang paling penting "Berpahala". Syukur-syukur, bisa membuat gebetan terpesona atau bahkan orang yang lagi marah bisa luruh atau hilang marahnya.

Mau dicari alasan apapun, dalam kondisi apapun, tidak ada salahnya untuk tersenyum. Walaupun terkadang tidak merubah keadaan, tapi jelas jauh lebih baik jika menghadapinya dengan senyuman.

Maka, marilah menghiasi hari dengan senyuman...

Tuesday, November 13, 2007

Class of Management 2004






Waktu memang cepat sekali berlalu, tak terasa sudah banyak kebersamaan yang telah dilewati bersama. Kuliah, kerja kelompok, bikin tugas, ujian, tawa-canda, tingkah konyol, debat serius maupun debat kusir, percintaan dan beragam kejadian pun tercipta di masa-masa itu. Sebagian besar teman-teman yang di foto ini saya tidak tahu kabarnya, dimana mereka sekarang.

Dan memang seperti itulah hidup, mampir, bertemu dan berpisah, untuk kemudian meneruskan perjalanan dan menjalankan misi masing-masing. Dan jika memang ada jodoh dan umur yang panjang, mungkin kita akan bertemu lagi...



Friday, November 9, 2007

Mengantisipasi Risiko

Banyak orang bilang bahwa hidup itu penuh dengan risiko. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada diri kita. Untuk itu kita harus bisa mengantisipasi risiko tersebut. Untuk itu, apa yang sebaiknya kita lakukan?

Menurut Safir Senduk, dalam bukunya Mengantisipasi Risiko, ada beberapa alasan mengapa kita harus melakukan Antisipasi Risiko, antara lain:

1. Akibat dari risiko bisa berpengaruh pada keuangan, misalnya kebakaran yang mengakibatkan habisnya harta benda, atau kehilangan pekerjaan.

2. Beberapa risiko bisa terjadi sekaligus secara bersamaan, misalnya terbakarnya tempat usaha yang sekaligus mengakibatkan kita kehilangan barang-barang berharga seperti mobil yang ikut terbakar.

3. Beberapa risiko pasti terjadi, misalnya kematian.

Cara antisipasi risiko yang paling sering dilakukan orang adalah dengan mengambil asuransi, yaitu suatu bentuk pembagian/pengalihan (transfer) risiko kepada pihak lain, dalam hal ini kepada perusahaan asuransi. Pada dasarnya jasa asuransi terbagi menjadi tiga :

1. Asuransi Jiwa, apabila terjadi risiko meninggal dunia pada diri seseorang.

2. Asuransi Kesehatan, apabila terjadi risiko yang berhubungan dengan kesehatan seseorang seperti rawat jalan, rawat inap, atau operasi.

3. Asuransi Kerugian, seperti kecelakaan, kebakaran rumah, kecelakaan mobil dan sebagainya.

Ada beberapa kesalahan umum yang sering dilakukan dalam mengantisipasi risiko, antara lain:

1. Mengambil asuransi tanpa perhitungan

2. Tidak percaya pada asuransi

3. Menganggap asuransi sebagai judi

4. Terlalu banyak mengambil asuransi

5. Sudah merasa cukup dengan perlindungan dari perusahaan

Untuk memperbaiki kesalahan tersebut, kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa akibat yang akan muncul dari terjadinya risiko, seberapa besar akibatnya bila diukur dengan uang, barulah setelah itu kita bisa mengambil keputusan yang tepat tentang apa yang harus dilakukan untuk mengantisipasi risiko tersebut: apakah kita harus menghindari risiko,mengurangi risiko, hadapi risiko, bagi risiko atau transfer risiko. Untuk langkah bagi dan transfer risiko, kita bisa menggunakan perusahaan asuransi.